Aku tidak pernah tahu
apa yang dilakukan bangsa lelaki saat mereka cemburu. Cemburu adalah
sesak yang datang menghampiri tanpa kita siap dengan obat penawar.
Serasa ada cekat di tenggorokan, menutup jalan napas dan yang ada hanya
perih. Ingin menangis namun air mata masih menahan diri tak menyerpih.
Cemburu adalah dilema, antara berpura-pura tersenyum menahan rasa
sedangkan pembicaraan tetap mengalir baik-baik saja, ataukah mengatakan
sejujurnya lalu percakapan menjadi canggung karena ada dinding pemisah?
Untukku, memilih untuk
berpura-pura tersenyum adalah hal yang amat sangat sulit untuk diambil.
Cemburu tidak akan pernah bisa membunuh seseorang dengan segera, hanya
saja rasa sakitnya di sela-sela darah yang mengalir lalu berhenti di
pusat jantung akan membuat tubuh demam beberapa waktu. Demam yang tak
biasa, menggigil membuat sakit kepala, menyelinap tanpa kata, berdalih
cerdas untuk menyembunyikan apa yang dirasakan sesungguhnya.
Cemburu, memikat
sekaligus berbahaya saat tak tersimpan dalam wadah yang benar. Satu
keadaan jiwa patah perempuan diuji tetap kuat dan terkontrol dengan
rapi. Lalu ketika menggelegak, perempuan akan menangis agar hati tak
terlalu merasa sakit.
Cemburuku kepada waktu,
jarak dan keadaan di mana indera perabaku belum diizinkan menyentuhmu.
Di mana udara yang dihela paru-paruku belum diberi kebebasan untuk
berbagi nafas denganmu. Meski masih dapat kukendalikan, cemburu tetap
akan selalu membuat otakku menjadi bodoh. Tetap mencinta, asalkan hatimu
untukku sepenuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar