Malam hari biasanya adalah waktu terbaik bagi pertemuan paling romantis
dan picisan antara lisanku dan hujan. Biasanya obrolan kami terlontar
begitu lugas dan mengalir apa adanya. Butuh beberapa lama bagiku
menunggu hujan menghampiri. Dia bilang baru saja rebah di bibir lantai
sebuah kuil, lalu diminta mendatangi pesisir Sisilia, juga dibujuk
mengunjungi Sagamihara yang menjadikannya lebih dingin dan basah.
Kupikir itu lumrah, makanya aku tidak mendengus sebagai tanda bahwa
kumaklumi alasan keterlambatannya.
Aku mencoba untuk tidak mengeluh saat hujan harus berteleportasi untuk
mendengarkan kisah setiap orang. Setidaknya dia mampir ke tempatku dan
legalitas menyentuh rinainya tak memerlukan izin siapapun. Hujan tidak
pernah egois atau kehabisan energi saat aku memintanya turun dari
langit. Bisa dipastikan celotehanku akan sedikit membosankan apabila
kulibatkan cinta di dalam dialog kami berdua meski hujan bukan manusia.
Tapi tetap saja hujan masih bersedia dan menaruh minat atas naskah
kehidupan yang kuceritakan.
Malam ini aku bercerita banyak kepada hujan. Tepatnya sedikit
berceramah, mengingat hujan sedikit terlambat karena wajib meneduhkan
hati manusia-manusia yang lain dengan paparan kesejukannya yang lumayan
epik. Aku membicarakan seorang lelaki kepada rintik merdu di depan
jendela. Iya, lelaki yang belum lama ini memiliki raga, jiwa juga
hatiku. Dia memantrai tiga elemen itu sampai-sampai aku tak punya waktu
untuk mengelak dari senyumannya yang melumpuhkan logika. Hujan mengikik
melihatku yang terpesona kepada lelaki tersebut. Tapi asal tahu saja,
itu sama sekali tak menghentikanku untuk terus mengoceh tentangnya.
Setelah beberapa menit, hujan pun pamit karena harus berteleportasi ke
tempat lain. Aku mengangguk, berterima kasih dan membiarkannya berhenti
membasahi tempat berpijakku. Namun sebelum dia berlalu, kubisikkan pesan
agar rinduku disampaikan kepada lelaki itu. Iya, lelaki yang sudah
memilikiku secara utuh. Dan hujan, semoga selalu setia mendengarkanku
bercerita, karena tanpa kehadirannya...roman dua manusia takkan pernah
terlihat sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar